KISAHKU
SEPENINGGAL IBU...
Ibu adalah sosok yang akan selalu
dirindukan kehadirannya. Senyumannya, perhatiannya, kasih sayangnya, selalu
memberikan kehangatan. Tanpanya hidup ini terasa hampa. Saat kita kembali ke
rumah, sosok yang pertama dicari adalah ibu. Walau putra-putrinya telah dewasa,
kasih sayangnya tak pernah reda. Walau buah hatinya telah berkeluarga, cintanya
tak pernah pupus, perhatiannya tak pernah putus. Itulah seorang Ibu, akan
selalu menjadi malaikat penjaga, sumber cahaya. Ibu, akan selalu ada di hati
kita.
Perkenalkan namaku Sri, aku anak
sulung dari tiga bersaudara. Aku perempuan, adikku yang pertama perempuan, yang kedua laki- laki, dan yang terakhir
perempuan. Alhamdulillah, sejak kecil aku dididik untuk disiplin dan
bertanggung jawab. Ibu dan ayahku yang mendidikku demikian. Apalagi, aku
sebagai anak pertama harus bisa menjadi teladan untuk adik-adiknya.
Menjadi anak pertama memang tidaklah
mudah, banyak amanah dan tanggung jawab yang
harus dijalankan apalagi ketika salah satu orang tua kita sudah tidak
ada. Kakaklah yang akan menjelma sebagai
orang tua menggantikan posisi mereka. Seperti kisah yang akan aku
ceritakan.
Mamah (panggilan untuk ibu) adalah
sosok yang menjadi panutan. Beliau berhati emas, penyayang, dan perhatian
kepada siapa pun. Beliau tidak hanya dekat dengan keluarganya, tetapi juga
dengan keluarga suaminya. Ketika memiliki makanan tidak pernah lupa untuk
membagi dengan mereka, disebutkan satu per satu, ini untuk si A, si B, si C,
dan seterusnya. Bukan hanya kepada keluarga terdekat, kepada tetangganya juga
demikian.
Suatu ketika, beliau panen petai,
kebetulan mamah mempunyai beberapa pohon petai yang letaknya agak jauh dari
rumah. Selesai mengambil petai, beliau membagikan dulu ke tetangga terdekat.
Kemudian beliau berjalan pulang, sepanjang jalan beliau bagikan juga ke
orang-orang yang ditemui. Memang seperti itulah mamah. Saat, ada makanan di
rumah yang memang tidak dimakan anak-anaknya, karena memang kami jarang ngemil,
beliau memberikannya ke tetangganya.
Oktober 2010, mamah meninggal.
Sungguh aku merasa terpukul. Bukan hanya aku yang merasa kehilangan, tetapi
semua keluarga terdekat, kerabat, dan tetangga. Bahkan kakak iparnya pun sampai
menangis tersedu-sedu. Betapa murah hati ibu, rumah yang seharusnya menjadi miliknya,
malah diberikan kepada kakaknya yang memang belum mempunyai rumah.
Setelah beberapa hari mamah
meninggal, rumah menjadi begitu sepi, seakan-akan, yang pergi dari rumah
beberapa orang. Memang benar pepatah mengatakan "bagai ayam kehilangan
induknya" dan itulah yang aku rasakan, tetapi aku berusaha kuat demi
adik-adikku. Sempat temanku bertanya, apakah aku sedih setelah ditinggalkan mamah?
Jawabannya tentu saja sedih, namun aku tak bisa menampakkan wajah kesedihan. Aku
takut adik-adikku bertambah sedih dan rapuh, jika aku terlihat bersedih.
Bahkan, ada yang bertanya, apakah aku tidak menangis? Tentu, namun, aku
menangis saat berada di kamar mandi, sengaja supaya tidak terlihat, air mataku
bisa dihapus lagi dengan air, walau
sebenarnya mataku terlihat sembab.
Orang yang paling rapuh saat
kehilangan mamah adalah adik pertama dan keduaku, kalau yang ketiga, karena
saat itu masih kelas 5 SD, dia tidak begitu mengerti. Pagi itu, adik
pertamaku akan melaksanakan PPL di
Pameungpek. Saat hendak berangkat, ia mendengar berita bahwa mamah telah tiada,
dia begitu syok karena dia memang paling dekat dengan mamah. Ke mana-mana
selalu ikut, bahkan saat mamah masak pun, dia di sampingnya, makanya tak heran
kalau dia pintar masak.
Akhirnya, adikku tidak jadi berangkat
PPL. Setelah kepergian mamah, dia selalu murung, sering pingsan pula.
Alhamdulillah, ketika dia menikah, suami yang menjadi penawar kesedihannya.
Memang, sebelum mamah meninggal, sudah ada rencana untuk menikahkan adikku.
Mamah berpesan, apapun yang terjadi, rencana menikah tidak boleh dimundurkan,
apalagi tidak jadi. November 2010, adikku menikah.
Adikku yang kedua pun, sama seperti
yang pertama, dia murung setelah ditinggal mamah. Dia pun sama, sangat dekat
dengan mamah. Ketika dia pulang ke rumah setelah main, pasti yang ditanyakan
mamah. "Mamah mana?" Dia memang anak kebanggaan mamah. Tapi yang aku
khawatirkan, dia menjadi penyendiri, tidak mau ditemani siapa pun. Ketika dia
berada di rumahku, kemudian aku menghampirinya, dia pindah ke rumah mamah, begitu
juga sebaliknya, ketika dia sedang sendiri di rumah mamah, ketika ada orang
yang menghampirinya, dia akan pindah lagi ke rumahku. Aku takut dia melakukan
hal-hal yang buruk.
Lain lagi dengan adikku yang ketiga, dia
belum paham situasi, banyak sekali maunya. Bahkan, baru beberapa hari mamah
meninggal, ia ingin pergi berenang dengan teman-temannya karena memang program
sekolah. Mau tidak mau, saya mengantarnya. Beberapa bulan kemudian, saya
memindahkan sekolahnya, awalnya di SDN 6 Keresek Cibatu kemudian pindah ke SDN
1 Wanakerta, lokasi yang dekat dengan rumah. Sebelum kepindahannya, dia minta dibelikan seragam baru, tas baru, dan
sepatu baru. Masyaa Allah, saya tidak bisa menolak kemauannya. Saya tidak dapat
membayangkan, harusnya memang mamahlah yang
menjadi tempat bermanja-manja bagi anak bungsu. Tapi dia tidak bisa merasakan
itu lagi. Makanya segala kemauan yang masih bisa saya turuti, In Syaa Allah
saya turuti. Saya sempat minta izin kepada suami dan alhamdulillah beliau
ridho.
Setelah kepergian ibuku, tanggung
jawab berpindah kepadaku. Walaupun
sebenarnya masih ada ayahku, tetapi mungkin beda. Ketika mereka menyampaikan
keluh kesah, kebutuhan, dan permasalahan kepadaku. Alhamdulillah dari segi
finansial, walaupun saat itu, aku masih tergolong Guru Tidak Tetap di
sekolahku, tetapi Allah memudahkan dan melancarkan rezeki. Ketika adikku
membutuhkan uang kuliah, alhamdulillah ada. Adikku yang lain meminta uang SPP,
alhamdulillah ada. Masyaa Allah.
Ketika Allah memberikan ujian, In
Syaa Allah ada sesuatu yang indah di balik itu. Oktober 2010, mamah meninggal,
Oktober 2011, ada panggilan ikut PLPG. Masyaa
Allah. Tahun 2012, aku dapat tambahan penghasilan, TPG (Tunjangan Profesi
Guru). Allah Maha Rahman. Tahun berikutnya, ada penjaringan untuk CPNS dari GTT
Madrasah Negeri, alhamdulillah aku masuk Kategori 2. November 2014,
alhamdulillah, SK CPNSku sudah aku terima. Sungguh Luar Biasa, Allah Maha Pemurah.
Tidak ada yang lebih membahagiakan saat kita berhasil mendapatkan apa yang
menjadi mimpi kita. Impian ayah dan Ibuku adalah melihat aku menjadi seorang
PNS dan itu telah terwujud. Betapa bahagianya bapa saat mengetahui itu. Namun,
mamah tak sempat lagi untuk menikmati kebahagiaan bersamaku. Namun aku yakin,
beliau sudah bahagia di sana, bahagia juga melihat aku dapat mewujudkan
impianku. Alfatihah, Aamiin….
Allah sudah merencanakan sesuatu yang
indah untukku. Setelah gelap terbitlah terang, istilah itu tepat sekali dengan
apa yang aku alami. Dengan rezeki yang Allah berikan, aku dapat membiayai
sebagian kuliah adikku yang pertama dan ketiga. Kalau adikku yang kedua, dia
tidak mau melanjutkan sekolah di PT. Dia lebih memilih ikut bersama bapa ke
kota. Aku tidak bisa memaksa, jika itu sudah menjadi pilihannya.
Aku masih ingat ketika mendaftarkan
kuliah adikku yang ketiga di UNIGA jurusan Farmasi, biaya pertama adikku
sejumlah biaya kuliah aku dari semester pertama s.d. semester akhir. Saat itu,
aku sudah selesai wisuda, iseng-iseng
aku menghitung seluruh jumlah uang kuliah yang tertera dalam kwitansi.
Kemudian, mamah muncul dan bertanya, "Ngitung apa?" Aku menjawab
sambil senyum, "Menghitung keseluruhan uang kuliah." Kemudian mamah
berkata sambil senyum pula, "Mau bayar ke mamah ya? " "In Syaa
Allah ya mah, nanti kalau sudah kerja" kataku sambil senyum. Ketika aku
membayar uang kuliah adikku, aku berkata lirih dalam hati, "Mah, ini aku
bayar janjiku dulu sama mamah" Walaupun sebenarnya uang tersebut tidak
akan pernah bisa membayar apa pun sampai kapan pun. Kasih sayang, cinta, dan
perhatian seorang ibu tidak akan bisa terbayar, dengan uang trilyunan
sekalipun.
Juli 2018, adikku masuk UNIGA,
jurusan Farmasi. Alhamdulillah aku dan ayah sama-sama berjuang untuk
pembiayaannya. Aku menyanggupi untuk biaya semesternya sedangkan ayah untuk
biaya kost dan kebutuhan hariannya. Ayah sempat bertanya, apakah tidak masalah
jika aku membiayai kuliah adikku? Tentu saja tidak, aku bisa seperti ini karena
ayah. Tanpanya, aku tidak bisa menjadi apa-apa. Alhamdulillah, suami juga
ridho. Jadi, sudah selayaknya aku juga membantu adik-adikku. Rezekiku, rezeki
mereka juga.
Alhamdulillah, November 2022, adikku
diwisuda. Suasana haru meliputi saat itu tanpa kehadiran ibu. Aku melihat
bagaimana raut wajah ayah, nampak kesedihan di sana. Bagaimana tidak, mahasiswa
yang lain didampingi oleh kedua orang tuanya, tetapi adikku tidak. Sebetulnya, lebih
mengharukan saat adik pertamaku wisuda, bahkan tidak dihadiri oleh keduanya dan
juga oleh suami serta anaknya karena wisudanya di Bandung dan berangkatnya pun
rombangan dari kampus, tetapi ayahku mengantar dan menjemputnya di Garut.
Juni 2023, alhamdulillah adikku yang
kedua diangkat sebagai PPPK dan September 2023 wisuda untuk PPG. Walau
perjuangan untuk keduanya begitu dahsyat. Ketika mengikuti tes PPPK, adikku
sedang sakit, bahkan pulangnya pun sampai hujan-hujanan karena saat itu
diantar-jemput adikku yang ketiga naik motor. Tapi Alhamdulillah, perjuangan
tersebut berbuah manis. Kemudian, saat mengikuti PPG, perjuangan yang
berdarah-darah, hampir 9 bulan, zoom, tugas, presentasi, simulasi, peer
teaching, ukin, dan UP. Masyaa Allah. Setiap hari, duduk di depan laptop. Malam
harinya, mengerjakan tugas dan Alhamdulillah, semuanya telah terlewati. Sungguh,
nikmat yang Allah berikan sangat luar biasa. Di balik kepedihan yang kami rasakan,
ada kenikmatan yang Allah siapkan. Jika kita ikhlas menerima semua ketentuan
yang Allah tetapkan, maka Allah akan memberikan nikmat yang tak terhingga.
Januari 2024, adik ketigaku
melanjutkan kuliah profesinya, Apoteker di Universitas Bhakti Kencana Bandung
dengan biaya yang lumayan fantastik. Alhamdulillah, aku, ayah, dan adik
pertamaku bersama-sama membantu pembiayaannya. Pekan ini, In Syaa Allah akan
sidang. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan dan kelancaran sampai selesai.
Alhamdulillah
kepedihan, kesulitan, ujian, dan cobaan, membuat kami semakin kuat, semakin
tegar. Saling membantu dengan saudara. Rezeki yang dikeluarkan untuk membantu
saudara tidak akan menjadikan kita menjadi sengsara justru sebaliknya,
menjadikan rezeki yang kita peroleh semakin melimpah, semakin berkah. Itu yang
diajarkan orang tua kami. Kehilangan
sosok ibu menjadikan kita semakin erat, semakin rekat, bagai rantai yang tak
pernah putus. Mudah-mudahan persaudaraan, kerukunan kita abadi. Jika ada
kerikil-kerikil kecil, itu hal yang wajar untuk menguji seberapa kuat dan
seberapa tangguh kita.
Komentar
Posting Komentar