MAJAS
Pengertian Majas
Majas adalah salah satu bentuk
gaya bahasa untuk mendapatkan suasana dalam sebuah kalimat agar semakin hidup.
Jenis-jenis Majas:
1.
Majas
Perbandingan
membandingkan atau menyandingkan – bahwa sesuatu
sama, lebih, atau dapat menggantikan yang lain
a.
Majas Personifikasi
Majas personifikasi adalah majas yang
membandingkan antara manusia dengan benda mati, seolah-olah benda tersebut
memiliki sifat layaknya manusia.
Contoh: Laut yang biru seakan menatapku
dalam keheningan.
Deburan
ombak memecah karang.
b.
Majas Metafora
Majas metafora
membandingkan dua objek yang berbeda namun memiliki sifat yang sama.
Contoh: Sang
Raja Siang bersinar dan membawa kehangatan.
Anak itu
dikenal sebagai kutu buku di kelasnya.
c.
Majas Asosiasi
Dua objek
yang dibandingkan sebenarnya berbeda, tetapi dianggap sama. Keduanya
dihubungkan dengan 'seperti,' 'bak,' atau 'bagaikan.'
Contoh: Apa
yang telah kamu lakukan itu seperti duri dalam sekam.
d.
Majas Alegori
Majas
alegori adalah majas yang menyatakan dengan ungkapan kiasan atau penggambaran.
Contoh:
Hidup itu seperti roda berputar, kadang di atas, kadang pula di bawah.
2.
Majas
Pertentangan
Majas yang memiliki makna yang berkebalikan atau
bertentangan dengan maksud yang sesungguhnya.
a.
Majas Hiperbola
Majas
hiperbola adalah majas yang menggunakan ungkapan yang berlebihan dan tidak
masuk akal.
Contoh:
Dentuman itu menggelegar membelah angkasa.
Katanya dia
berlatih bernyanyi, tapi suaranya bikin pecah gendang telingaku setiap hari.
b.
Majas Litotes
Majas
litotes merupakan majas yang menggunakan ungkapan penurunan kualitas untuk
merendahkan diri.
Contoh: Silakan
datang ke gubukku yang kumuh.
Ini tanda
terima kasih kami, sekadar ongkos angkot.
c.
Majas Paradoks
membandingkan
suatu fakta dengan sesuatu yang berkebalikan.
Contoh: Isi
kepalanya bising ketika ia duduk
sendiri di ruang keluarga yang begitu sepi.
Ia kesepian di tengah keramaian.
d.
Majas Antitesis
Majas
antitesis adalah pasangan kata yang maknanya bertentangan atau berlawanan. Pasangan
kata tersebut biasanya diletakkan berurutan.
Contoh:
Setiap perempuan itu cantik, tak jadi soal kurus atau gemuk.
3.
Majas
pertautan
Majas pertautan adalah majas yang menggunakan
kata-kata kiasan yang berhubungan atau bertautan terhadap sesuatu hal yang
ingin disampaikan.
a.
Majas metonomia
Majas
metonomia adalah majas yang menyatakan suatu hal dengan memakai kata lain yang
punya keterkaitan (misalnya sebuah merek dagang).
Contoh: Jamaah haji Indonesia pergi ke Makkah
menggunakan Garuda.
b.
Majas Sinekdoke
Majas sinekdoke terbagi menjadi 2 jenis yakni
:
1)
Pars Pro toto adalah majas yang menggunakan sebagian
unsur/objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
Contoh: Dari
tadi pagi, ia tak menampakkan batang hidungnya.
2)
Totem Pro Parte
Majas totem
pro parte adalah majas yang mengungkapkan keseluruhan objek padahal hanya
sebagian objek saja.
Contoh: Indonesia
mengalahkan Malaysia dalam pertandingan sepakbola tadi malam.
c.
Majas Eufimisme
Majas
eufinisme adalah majas yang menggunakan ungkapan lebih halus terhadap ungkapan
yang dirasa kasar atau merugikan.
Contoh: Nasib
para
tuna wisma patut untuk kita perjuangkan bersama.
Dia tidak bisa berkomunikasi
dengan baik karena ia penyandang tuna wicara.
Arsinah merantau ke Jakarta untuk bekerja
sebagai asisten rumah tangga.
d.
Majas Alusio
Majas ini
menggunakan kalimat yang menggambarkan secara tidak langsung pada sebuah
kejadian, tokoh, atau perumpamaan yang telah secara umum diketahui oleh banyak
pihak
Contoh: Semoga
kejadian
tahun 1965 tidak terulang kembali pada masa pemerintahan saat ini.
4.
Majas
Sindiran
Bertujuan menyindir perilaku, seseorang, maupun
kondisi tertentu menggunakan kata kiasan.
a.
Majas Ironi
Majas
sindiran ini digunakan dengan cara menyembunyikan fakta dan mengatakan hal yang
sebaliknya.
Contoh: Suaranya
sangat merdu sekali seperti kaset kusut.
Santun sekali perilakunya,
bertanya saja pakai teriak-teriak.
b.
Majas Sarkasme
Majas
sarkasme ini bisa dikatakan sebagai majas sindiran yang kasar.
Contoh: Putih
benar wajah kamu, sampai bisa aku sendoki bedaknya.
Kontestan itu suaranya
jelek sampai-sampai telingaku sakit dibuatnya.
c.
Majas Sinisme
Majas sinisme
ini lebih bersifat mencemooh atas ide atau pemikiran.
d.
Contoh:
Kamu sudah pintar ‘kan? Kenapa masih bertanya kepada aku?
Kakakku pelit sekali, tak mau berbagi
penganannya denganku.
5.
Majas
penegasan
Majas penegasan adalah majas yang digunakan untuk
menyatakan suatu hal secara tegas.
a.
Majas Pleonasme
Majas
pleonasme adalah majas yang menambahkan keterangan pada kalimat yang sudah
jelas (sebenarnya tidak diperlukan).
Contoh: Dia
sudah turun ke bawah.
b.
Majas Repetisi
Merupakan
majas pengulangan kata, frasa, atau klausa untuk mempertegas maksudnya.
Contoh:
Awas, tunggu kedatanganku besok! Tunggu!
Rumah adalah tempat yang paling
nyaman, rumah juga menjadi tempat bernaung dari panas dan
hujan.
c.
Majas Retorika
Majas
retorika ini berbentuk kalimat tanya, namun tidak memerlukan jawaban. Tujuan
kalimat tanya tersebut sebagai penegasan akan suatu hal.
Contoh:
Siapa yang tidak ingin terlahir kaya raya?
Siapa yang tak ingin
kuliah di kampus terbaik?
d.
Majas Aliterasi
Majas
aliterasi adalah majas yang menggunakan pengulangan huruf konsonan pada awal
kata.
Contoh:
Beli baju biru bersama Budi.
e.
Paralelisme
Lumrah
digunakan dalam puisi, majas paralelisme ditunjukkan oleh pengulangan kata.
Meskipun diulang-ilang, definisi kata tersebut tak sama antara satu dengan
lainnya.
Anafora adalah pengulangan di bagian awal kalimat
Cinta itu
sabar.
Cinta itu
lemah lembut.
Cinta itu
memaafkan.
Cinta itu
tidak serakah.
Epifora adalah pengulangan di bagian akhir kalimat.
Perempuan
paling hebat itulah ibuku.
Perempuan
yang penuh kasih sayang itulah ibuku.
Perempuan
yang penuh pengertian adalah ibuku.
Perempuan paling
sempurna adalah ibuku.
Komentar
Posting Komentar