Cerita Kampus


Tahun 1999, aku memulai kehidupanku di kampus tercinta STKIP Garut, aku mengambil Pendidikan  Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Seperti kampus-kampus yang lain, sebelum mengawali pembelajaran, kami mengikuti dulu ospek. Namus kampusku mengistilahkan lain, karena kalau ospek identik dengan perpeloncoan, maka STKIP menggunakan istilah “PASMARKAS” (Pengenalan Akang Teteh Mapag Rai Kaasih)

Sebelum pasmarkas dimulai, satu hari sebelumnya, kami menyiapkan segala persyaratan yang sudah ditetapkan, di antaranya toga dan dasi yang terbuat dari karton, sabuk yang terbuat dari sedotan, dan celemek yang terbuat dari bekas karung terigu. Barang-barang tersebut, tidak dibuat sendiri-sendiri, tetapi kami membuatnya bersama-sama. Masing-masing barang, ada yang membuatnya, jadi selain cepat membuatnya juga tidak memerlukam waktu yang lama. Alhamdulillah pukul 16 atau pukul 4 sore sudah selesai.

Aku bergegas pulang, jaraknya lumayan jauh dari Garut ke Cibatu, sekitar satu jam. Kebetulan, aku orang Cibatu. Pukul 5 sore sudah sampai di rumah. Kemudian aku mempersiapkan untuk keperluan selama pasmarkas. Rencananya aku akan menginap di tempat kost temanku di Nusa Indah Garut. Karena kalau berangkatnya dari Cibatu, entah harus pukul berapa berangkatnya, karena kegiatan di mulai pukul 06.00 WIB. Aku berangkat ke Garut lagi setelah sholat Maghrib diantar oleh kakak sepupuku.             

Hari pertama kegiatan pasmarkas agak ribet karena harus menggunakan aksesorik yang sudah menjadi syarat. Menggunakan pakaian yang dilengkapi dengan celemek, dasi, sabuk, tak lupa toga. Aku sendiri agak malu waktu berjalan menuju pasar untuk menyetop angkot, tetapi anehnya orang yang berada di sana, hanya melihat dengan biasa-biasa saja, tidak ada yang tertawa, memandang heran, atau menganggap kami orang aneh, mungkin bagi mereka itu pemandangan yang sudah biasa ketika musim ospek.

Tiba di kampus, akang teteh (kakak tingkat/ panitia) sudah teriak-teriak memanggil kami untuk segera bergabung dengan peserta ospek yang lain. Kegiatan diawali dengan olah raga (senam). Selesai olah raga, materi pertama pun di mulai. Awalnya memang agak membosankan tetapi lama kelamaan seru juga. Apalagi aku dipandu oleh kakak tingkat yang masa Allah, kalem dengan suara yang agak berat, parasnya juga rupawan. Mungkin bisa dibilang aku mengaguminya waktu itu. Kegiatan berakhir pukul 17.00 WIB.

 

Tiba di tempat kost, aku mandi dan sholat maghrib. Setelah itu, aku menyiapkan lagi untuk persyaratan besok. Aku menuju ke mini market untuk membeli beberapa barang sebagai persyaratan, pulang dari mini market, aku membuat beberapa persyaratan untuk kegiatan besok. Yang menarik ketika membuat surat cinta untuk kakak tingkat. Aku bingung harus menulisnya untuk siapa. Kalau pun ada yang disukai, tidak mungkin juga berterus terang, sama saja dengan bunuh diri. Akhirnya aku menulis surat untuk seseorang yang isi suratnya kurang lebih mengajak berkenalan,  jadi aman. Selama beberapa hari, seperti biasa kesibukanku menyiapkan persyaratan malam harinya, besoknya kegiatan.

Di hari terakhir, di antaranya ada kegiatan berkenalan dengan kakak tingkat satu jurusan. Ketika beberapa orang kakak tingkat masuk, jantungku berdegup kala melihat orang yang kukagumi itu. Ternyata, ia satu jurusan denganku. Aku senang bukan main. Selain kita berkenalan, juga mereka memberikan informasi tentang dosen-dosen yang akan mengajar di kelas bahasa Indonesia, dengan karakter yang berbeda-beda, bagaimana kita berpakaian, bersikap, dan sebagainya. Informasi terakhir, setelah kita melaksanakan ospek, masih ada kegiatan kemah untuk pengenalan jurusan yang akan laksanakan sehari setelah ospek selesai. Kegiatan terakhir ini berlangsung sampai malam hari. Kegiatan ditutup dengan silaturrahim dan saling memaafkan antara akang teteh dan rai. Karena saat itu sudah malam dan tak ada angkot yang beroperasi, akhirnya aku menginap di rumah saudara temanku di Paseban.

Selepas sholat Shubuh, aku pulang. Sampai di sana, aku mandi. Kemudian siap-siap untuk pulang ke rumah. Tiba di rumah, bukan istirahat, tetapi aku mencuci semua pakaian yang sudah kugunakan selama di Garut. Menjelang siang, aku baru bisa istirahat. Malam harinya, aku harus mempersiapkan lagi untuk kegiatan kemah pengenalan jurusan. Ah,,, cape sekali,,, Aku iri dengan jurusan lain yang pelaksanaan kemah jurusannya sepekan setelah ospek. Aku merasa, belum juga istirahat sudah melaksanakan kegiatan lagi. Tapi apa mau dikata, aku tidak bisa protes.

Pagi hari, aku berangkat lagi ke kampus untuk melaksanakan kegiatan kemah pengenalan jurusan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di  lapangan Sumadra Cikajang-Garut. Kita berkumpul di kampus, sekitar pukul 08.00 WIB kita berangkat menuju lokasi dengan menggunakan bis. Perjalanan menuju ke sana sekitar 2 jam dengan medan yang lumayan menantang. Jalan dari Garut ke Cikajang masih mulus, namun dari Cikajang menuju lapangan Sumadra, Masyaa Allah…seperti jalan menuju hutan, pemandangan sebelah kiri dan kanan, pohon-pohon besar, jalannya pun masih batu-batu terjal yang membuat seluruh badan sakit. Namun, alhamdulillah ketika sampai di tujuan, terbayar sudah rasa lelah selama di perjalanan dengan pemandangan yang Masya Allah luar biasa. Pohon teh yang menghijau terhampar luas seperti permadani indah, udara yang sejuk, kabut pun tak ketinggalan menyambut kedatangan kami. Untuk pertama kalinya, aku melihat kabut menyelimuti tubuh seperti dalam film zaman dulu “Asmara di Pondok Songka” Kali ini, aku betul-betul menyaksikan sendiri.

Setelah beristirahat sebentar, kemudian kami menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Selasai makan, kita berkenalan dengan teman-teman dari jurusan yang sama. Sore hari, kita baru memulai kegiatan pengenalan jurusan. Masing-masing dari kami, mengenalkan diri, nama, alamat, dan alasan masuk ke jurusan bahasa Indonesia. Kegiatan berakhir pada malam hari. Esok harinya, kita memulai kegiatan dengan sholat Shubuh berjamaah di lapangan kemudian dilanjutkan dengan senam pagi. Setelah sarapan, dilanjutkan dengan kegiatan berikutnya. Kegiatan berakhir siang hari. Setelah selesai melaksanakan sholat Dzuhur, kita bersiap-siap untuk pulang. Pukul 13.00 WIB, kita pulang menuju tanah air. Pukul 15.00 WIB, kita sampai di kampus, dilanjutkan dengan perjalanan menuju istana tercinta. Tiba di rumah, sudah tiada tenaga yang tersisa, aku segera merebahkan diri di kursi, Alhamdulillah,,, akhirnya bisa istirahat juga.

Dua pekan kemudian, aku memulai pembelajaran di kampus. Rasa gugup, deg-degan muncul mengiringi perjalananku menuju ke sana.  Apalagi ketika dosen pertama masuk, makin berdebar-debar, maklum ini merupakan pengalaman pertama bertemu dengan dosen. Namun alhamdulillah, ternyata tidak seperti yang dibayangkan, dosen mata kuliah Pengantar Pendidikan, Masyaa Allah… baik, bijaksana, tidak membuat mahasiswa insecure. Kami enjoy dan semangat belajar. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, perkuliahan selesai. Kami bersiap-siap untuk pulang.

Hari-hari berikutnya perkualiahan berlangsung, dosen-dosen pun bergantian masuk dengan berbagai karakter. Masih terngiang dalam ingatan, kakak tingkat menginformasikan, ada salah satu dosen yang ketika beliau masuk, kita diintruksikan mahasiswa duduk di depan, sementara mahasiswi duduk di belakang. Mahasiswi harus menggunakan rok tidak boleh celana apalagi jeans. Demi kebaikan bersama, kita menuruti intruksi dari mereka. Alhamdulillah saat beliau masuk, begitu ramah dan bersemangat dalam menyajikan materi, kita pun menikmati sajian beliau, walau durasinya lama, tetapi tak terasa. Berbeda dengan mata kuliah lain, kalau mata kuliah lain hanya 2 jam, mata kuliah beliau kurang lebih 7 jam dalam satu hari, dari pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB. Istirahat, kemudian masuk lagi pukul 13.00 s.d 14.30 WIB. Walau lama tetapi tetap betah di kelas.

Beberapa hari kemudian, saat aku tiba di kampus, tetanggaku kakak tingkat satu jurusan memanggilku, ia sedang  ngobrol dengan temannya. “Sri, sini.” Aku bergegas menghampirinya. “Ada apa, a?” “Kenalan dulu nih sama temen aa satu jurusan” Aku kaget saat melihat ke arahnya, dia mahasiswa yang sedang aku sukai itu. “Aduhh” Seketika jantungku berdebar. Sebenarnya, ketika aku menyukai seseorang, aku tidak mau bertemu, cukup melihatnya dari jauh. Ini orangnya ada di depan mata, sungguh aku betul-betul tidak siap. Aku terpaksa menerima uluran tangannya, walau agak gemetar, tapi hatiku senang karena ternyata orang yang aku suka temannya tetanggaku. Orangnya memang kalem tapi ramah.

Pagi hari, seperti biasa mengawali aktivitasku dengan mengerjakan pekerjaan rumah, menyapu dan mengepel depan dan dalam rumah. Saat aku menyapu lantai dan halaman rumah, ada yang memanggilku, “Hai…” Seketika aku mencari arah suara tersebut. Aku menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada orang.  “Di sini, di atas.” Aku menengok ke atas dan ternyata,,,, dia lagi, laki-laki yang aku suka muncul lagi di depanku. Dia ada di rumah tetanggaku itu. Rumahnya memang tepat di depan rumahku. Aku kaget sekaligus heran, kenapa pagi-pagi sudah muncul di sini. “Kok ada di sini? Nginep di sini?” tanyaku. Tiba-tiba muncul tetanggaku itu, “Dia habis ngapel.” “Huss” timpal dia. Degg, dadaku mendadak sesak, kakiku lemas mendengar ternyata ia sudah punya pacar. “Habis ngapelin siapa?” tanyaku. “Itu teman kamu, NR,” jawab tetanggaku. Aku semakin lemas dan sedih mendengar bahwa pacarnya ternyata sahabatku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku berusaha senyum menanggapi jawaban tetanggaku itu. “Oh,,,kok aku gak tahu yaa, kalau akang pacaran sama Neng.” “Iya, memang tidak banyak yang tahu.” jawabnya sambil senyum pula.

Sejak itu, aku berusaha untuk mengubur dalam-dalam rasa suka terhadapnya. Walau perasaanku kecewa, namun berusaha untuk tegar. Memang sulit kalau perempuan yang menyukai laki-laki lebih dulu. Cinta bertepuk sebelah tangan. Aku bercerita kepada adikku. “Sebenarnya dia menyukai teteh, tapi karena tetehnya terlampau cuek, jadi dia menembak temen teteh,” katanya mencoba menghiburku. “Apaan, kapan dia bilang suka, kamu mah ada-ada saja,” jawabku. “Ihh, dikasih tahu tidak percaya” katanya lagi.  Ya  sudahlah. Aku juga tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Laki-laki masih banyak  stoknya, tak mungkin kehabisan, he... Terlebih lagi, perjalananku masih panjang, masih 2 tahun lagi menuju kelulusan, masih lama. Lebih baik fokus dengan mata kuliah supaya nilaiku tidak turun, karena alhamdulillah di awal-awal semester, aku mendapat bea siswa karena IPK-ku tiga terbesar.  Aku tidak mau mengecewakan orang tua.

Sahabatku juga sering bercerita tentang pacarnya. Menurutnya, ia baik dan memberikan energi positif terhadapnya, banyak menasihati dan mengingatkan. Jika sebelumnya, ia jarang bantu orang tua untuk melakukan pekerjaan rumah, sekarang ia lebih rajin. Sholatnya juga selalu diingatkan. Aku sebagai sahabatnya ikut berbahagia dan selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Namun beberapa waktu kemudian, menjelang sidang akhir, ia diputuskan oleh pacarnya. Seperti petir menyambar di siang hari ketika aku mendengar itu, apalagi dia yang diputuskan. Katanya, ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Tapi entahlah, apakah itu hanya alasan, atau memang benar. Namun yang jelas, sahabatku itu benar-benar down. Aku memahami mengapa seperti itu karena aku juga pernah mengalami hal yang serupa. Ia menangis ketika bercerita kepadaku. Aku mengingatkannya, Allah lebih sayang, lebih perhatian, tahu mana yang terbaik. Dia menunjukkan jalan-Nya. Lebih baik fokus dengan skripsi dan sidang akhir, itu masa depan yang harus dikejar. Rugi rasanya kalau terus memikirkan laki-laki yang sebenarnya tidak sayang dengan kita. In Syaa Allah, suatu saat Allah akan memberikan laki-laki yang jauh lebih baik dari dia. Alhamdulillah, ia mendengarkan kata-kataku dan merasa lebih baik.

Sebenarnya, pesan tersebut bukan hanya ditujukan untuk sahabatku tetapi juga diriku sendiri. Aku sering mengalami kekecewaan terhadap laki-laki tetapi berusaha melupakan, jatuh tetapi cepat bangkit lagi, tetap berusaha kuat tidak lemah karena hidup akan terus berjalan. Tidak menggantungkan harapan kepada manusia, tetapi hanya kepada Allah, karena jika berharap kepada manusia, adakalanya kita mengalami rasa kecewa, bertepuk sebelah tangan. Tetapi, jika kita berharap kepada Allah, In Syaa Allah, tidak akan kecewa. Allah akan memenuhi hajat dan permohonan kita. Allah tempat bergantung seluruh makhluk. Ketika kita kecewa dengan makhluk, maka bersandarlah hanya kepada Allah. Hasbunalloh wani’mal wakiil, cukup Allah sebagai penolong kami dan Allahlah sebaik-baik penolong.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD Menulis Teks Eksplanasi

HUKUM MENUNAIKAN PUASA RAMADHAN TETAPI MENINGGALKAN SHOLAT WAJIB