Yogyakarta, Sumber Kebahagiaanku


Langkahku terasa ringan ketika kereta akhirnya berhenti di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Kota ini menyambutku dengan hangat, seolah siap menjadi tempat baru untuk menata hati yang sempat retak. Aku tidak pernah menyangka, perjalanan hidup akan membawaku kembali pada jejak masa lalu yang dulu begitu sengaja kuhindari. Di sinilah, di antara hiruk pikuk Malioboro dan senja yang selalu memesona di Tugu Pal Putih, aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang pernah mengisi ruang rahasia di hatiku, cinta pertama yang dulu kupendam dalam diam, namun akhirnya kutinggalkan karena ia memilih bersama sahabatku.

Angin sore menyapu lembut wajahku saat duduk di pinggir Alun-Alun Kidul. Cahaya senja merembes perlahan di antara pohon beringin, menciptakan bayangan panjang yang menenangkan. Ini sudah bulan keempat aku tinggal di Yogyakarta, kota yang awalnya kupilih untuk melarikan diri, tapi justru kini menjadi rumah yang paling kurindukan.         

Namaku Lara. Dulu, aku adalah siswi SMA yang biasa-biasa saja. Hidupku datar, tak ada yang terlalu istimewa, kecuali satu hal: dia. Namanya Reyhan. Kakak kelasku sekaligus sahabatku yang tak pernah tahu betapa dalam aku menyukainya.

Reyhan tipe laki-laki yang kalem, jarang berbicara, namun senyumnya bisa membalikkan dunia. Tatapannya tenang, dan caranya memperlakukan orang membuatku diam-diam jatuh cinta selama dua tahun. Aku tak pernah berani mengungkapkan perasaan itu. Hanya menyimpan diam. Namun hatinya lebih memilih sahabatku. Aku tersenyum getir kala itu, berpura-pura baik-baik saja meski malam-malamku penuh air mata.                                   

Aku hancur.

Hati yang rapuh tak kuat lagi menahan luka. Setelah lulus SMA, aku memutuskan pindah ke Yogyakarta untuk kuliah. Aku hanya ingin menjauh dari kenangan. Tak kusangka, kota ini justru membawa jejaknya kembali padaku.

Tak kusangka, di kampus aku justru bertemu Ria, adik perempuan Reyhan. Perkenalan kami begitu sederhana, lewat satu organisasi mahasiswa. Tak butuh waktu lama hingga kami akrab. Ria sosok yang menyenangkan, penuh tawa, dan entah mengapa sering sekali menyebut nama kakaknya. Aku hanya bisa diam setiap kali itu terjadi, mungkin hanya nama yang sama.

“Kalau kamu main ke rumah, aku kenalin sama Mas Reyhan,” katanya suatu sore.

Jantungku langsung merosot. Entahlah setiap  kali, Ria menyebut nama itu hatiku langsung berdesir, jantungku tak menentu. Padahal mungkin bukan dia, tapi perasaanku tak karuan. Aku berusaha menolak setiap kali Ria mengajak ke rumahnya dengan alasan sibuk, tapi Ria terlalu antusias. Hingga akhirnya aku duduk di ruang tamu sebuah rumah di kawasan Kotagede dan dari pintu itu muncul wajah yang selama ini kukenal hanya dalam kenangan. Reyhan. Senyumnya masih sama, tatapannya masih membuatku gugup.

“Lara?” Ia menyebut namaku dengan suara pelan, nyaris tak percaya.

Aku hanya bisa membalas dengan senyum tipis. Perasaan yang selama ini kukubur rapat kembali tumbuh, namun sekaligus kutahan sekuat mungkin. Aku tak ingin melukai sahabatku. Meski katanya mereka sudah lama berpisah, hatiku terlalu takut mengkhianati kenangan.

Hari-hari berikutnya terasa membingungkan. Ria sering bercanda ingin menjodohkan aku dengan Reyhan. Ia tak tahu apa yang kusimpan. Setiap kali berpapasan dengan Reyhan di rumahnya, di kafe tempat kami kebetulan bertemu, atau bahkan di Malioboro, aku selalu memilih menjauh. Tapi Reyhan seolah tak pernah lelah mendekat.

Suatu malam, saat aku duduk sendiri di Alun-alun Kidul, Raka datang tanpa permisi. “Kamu masih menghindariku,” katanya.

Aku menunduk. “Aku hanya menjaga perasaan seseorang.”

“Lara…” Suaranya berat, namun lembut. “Kamu tahu, dulu aku menyayangimu juga.

“Tapi kamu lebih memilih Anggi…” kataku lirih.  

 

Dia menghela napas. “Itu kesalahanku. Aku kira kamu nggak pernah punya rasa yang sama. Jadi aku mencoba melupakanmu.” Sekarang, ketika kita dipertemukan lagi, aku tak ingin melepaskan kesempatan ini.”

Tiba-tiba semua kenangan berputar. Semua rasa yang selama ini kusimpan rapi kembali muncul. Air mataku menetes tanpa bisa kutahan. Aku ingin percaya, tapi bayangan sahabatku membuatku ragu. Namun malam itu, di tengah lampu-lampu kota yang berkelip, aku sadar: Yogyakarta tak hanya memberiku luka yang kembali, tetapi juga keberanian untuk menatap masa depan.

Aku masih tak tahu akan ke mana hubungan ini berlabuh. Tapi satu hal pasti, Yogyakarta menjadi sumber kebahagiaanku karena di sinilah, aku belajar bahwa cinta dan persahabatan, meski rumit, selalu menemukan jalannya.

Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri menghubungi sahabatku. Aku jujur menceritakan semuanya, termasuk perasaan yang tak pernah hilang. Di luar dugaan, sahabatku tersenyum di ujung telepon. “Lara, kamu pantas bahagia. Jangan pikirkan aku. Kalau memang dia untukmu, raihlah.”

Hari itu, beban yang kupikul seakan runtuh.

Pada suatu sore, di bawah langit oranye di Bukit Bintang, aku dan Rey akhirnya duduk berdampingan. Tak ada lagi kata-kata yang perlu disembunyikan. Senyumnya meneduhkan, tatapannya meyakinkan.

“Aku ingin mulai lagi, bersama kamu,” katanya pelan.

Aku mengangguk, dan kali ini tanpa keraguan.

Yogyakarta benar-benar menjadi sumber kebahagiaanku. Kota ini memberiku luka, tapi juga keberanian untuk sembuh, dan akhirnya, cinta yang tak pernah padam sejak dulu.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD Menulis Teks Eksplanasi

HUKUM MENUNAIKAN PUASA RAMADHAN TETAPI MENINGGALKAN SHOLAT WAJIB