BAB 3 TEKS REKON

D. MENULIS TEKS MENULIS

Langkah Menulis Teks Rekon

1. Tentukan pengalaman/peristiwa yang ingin diceritakan.

2. Catat urutan kejadian secara kronologis.

3. Buat orientasi (pembukaan cerita).

4. Kembangkan deretan peristiwa menjadi paragraf runtut.

5. Tambahkan reorientasi (penutup) bila perlu.

6. Baca ulang dan perbaiki jika ada bagian yang kurang jelas.

1. Pengalaman/ Peristiwa: Kejutan Ulang Tahun dari Peserta Didik


2. Urutan Kejadian:

Mengajar seperti biasa.

Kemarin, mendamaikan siswa yang berselisih.

Ada kabar mereka berselisih lagi.

Siswa memanggil untuk mendamaikan siswa yang berselisih, namun ditolak.

Siswa yang lain memanggil lagi, namun tetap ditolak dengan alasan mereka harus belajar 

menangani masalah sendiri.

Tak lama kemudian, guru BP memanggil dan mengatakan bahwa hanya wali kelas yang dapat mendamaikan siswa tersebut.

Tiba di kelas, suasana serius. Siswa memberi kejutan ulang tahun kepada guru.

Guru merasa dihargai dan disayangi oleh siswa.

Ketulusan  mereka adalah hadiah yang paling berharga.


3. Orientasi:

Sabtu, 02 November 2019. Beberapa hari sebelumnya, aku baru saja mendamaikan dua peserta didik yang sempat bertengkar cukup hebat. Aku pikir persoalan mereka sudah selesai, dan hubungan keduanya telah membaik. Namun, keesokan harinya aku mendengar kabar bahwa mereka bertengkar lagi.


4. Deretan Peristiwa:

Salah satu peserta didik datang tergesa-gesa memanggilku. Ia berkata, “Bu, tolong ke kelas, teman-teman berantem lagi!” Aku hanya tersenyum kecut dan menjawab, “Aduh, Ibu sudah capek, bukannya kemarin sudah berdamai. Biarlah dulu, nanti juga tenang sendiri.” Namun, peserta didik itu terus membujukku agar segera datang.

Tak lama kemudian, peserta didik kedua datang lagi, juga memohon agar aku segera masuk ke kelas tersebut. Aku tetap menolak dengan alasan yang sama,  aku sudah lelah dan ingin mereka belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Beberapa menit kemudian, seorang guru Bimbingan dan Konseling (guru BP) datang menghampiri dan mengatakan hanya walikelas yang dapat menyelesaikan.  Akhirnya, aku mengalah dan mengikuti guru BP menuju kelas yang dimaksud.

Begitu aku membuka pintu kelas, suasana di dalam tampak serius.. Namun, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara riuh, “Selamat ulang tahun, Bu!”


5. Reorientasi

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum haru. Jujur saja, aku tidak pernah merayakan ulang tahun. Namun, perhatian dan kasih sayang yang mereka tunjukkan sungguh membuatku tersentuh.

Aku merasa sangat dihargai dan disayangi oleh anak-anak yang selama ini hanya kulihat sebagai peserta didik. Ketulusan mereka adalah hadiah yang paling berharga yang pernah aku terima.

6.                                                    KEJUTAN TAK TERDUGA


Hari itu, terasa seperti hari biasa. Tepatnya Sabtu, 02 November 2019. Aku mengajar berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. Beberapa hari sebelumnya, aku baru saja mendamaikan dua peserta didik yang sempat bertengkar cukup hebat. Aku pikir persoalan mereka sudah selesai, dan hubungan keduanya telah membaik. Namun, keesokan harinya aku mendengar kabar bahwa mereka bertengkar lagi.

Kebetulan saat itu, aku sedang mengajar di kelas yang berbeda. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari yang sangat berkesan dalam hidupku.

Tiba-tiba, salah satu peserta didik datang tergesa-gesa memanggilku. Ia berkata, “Bu, tolong ke kelas, teman-teman berantem lagi!” Aku hanya tersenyum kecut dan menjawab, “Aduh, Ibu sudah capek, bukannya kemarin sudah berdamai. Biarlah dulu, nanti juga tenang sendiri.” Namun, peserta didik itu terus membujukku agar segera datang.

Tak lama kemudian, peserta didik kedua datang lagi, juga memohon agar aku segera masuk ke kelas tersebut. Aku tetap menolak dengan alasan yang sama,  aku sudah lelah dan ingin mereka belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Beberapa menit kemudian, seorang guru Bimbingan dan Konseling (guru BP) datang menghampiriku. Ia berkata dengan nada serius, “Bu, tolong bantu ke kelas itu, hanya Ibu yang dapat menyelesaikan karena Ibu wali kelas mereka.” Mendengar itu, aku pun terdiam sejenak. Dalam hati aku berpikir, mungkin memang sudah seharusnya aku turun tangan lagi. Akhirnya, aku mengalah dan mengikuti guru BP menuju kelas yang dimaksud.

Begitu aku membuka pintu kelas, suasana di dalam tampak serius. Aku sempat khawatir, takut kalau pertengkaran mereka makin parah. Namun, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara riuh, “Selamat ulang tahun, Bu!”

Aku terkejut bukan main. Di depan mataku, anak-anak berdiri sambil tersenyum lebar, membawa kue sederhana. Bahkan guru BP pun ikut tersenyum melihat reaksiku. Ternyata, semua “keributan” dan “panggilan darurat” tadi hanyalah akal-akalan mereka untuk membuat kejutan ulang tahun untukku.

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum haru. Jujur saja, aku tidak pernah merayakan ulang tahun karena itu bukan bagian dari budaya dalam kepercayaanku sebagai seorang Muslim. Namun, perhatian dan kasih sayang yang mereka tunjukkan sungguh membuatku tersentuh.

Aku merasa sangat dihargai dan disayangi oleh anak-anak yang selama ini hanya kulihat sebagai peserta didik. Hari itu aku belajar sesuatu yang indah, bahwa rasa hormat dan kasih sayang bisa diwujudkan dengan banyak cara. Ketulusan mereka adalah hadiah yang paling berharga yang pernah aku terima.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD Menulis Teks Eksplanasi

HUKUM MENUNAIKAN PUASA RAMADHAN TETAPI MENINGGALKAN SHOLAT WAJIB